Semen Indonesia sudah menerapkan konsep green industry dan sustainable development (pembangunan berkelanjutan), baik dalam pengelolaan maupun pengembangan perusahaan. Penjabaran konsep itu bisa dilihat pada pabrik Semen Gresik di Tuban, maupun pabrik Rembang yang proses pembangunannya masih berjalan.


“Dari sekian perusahaan di Indonesia, kami melihat Semen Indonesia sudah menerapkan konsep greeen industry sebagaimana yang dicanangkan oleh beberapa negara di Filipina tahun 2009 lalu,” kata Syarif Susanto, Kabid Lingkungan Hidup & Kawasan Agraris PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Jumat (9/10), usai menghadiri Diskusi Interaktif Green Industry di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya.


Menurut Syarif, wajar bila ada warga yang pro maupun kontra terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang. Namun hal itu harus dilihat dari kacamata banyak orang, bahwa kehadiran pabrik semen di sana untuk kemaslahatan masyarakat Rembang. “Karena manfaatnya secara ekonomi sudah terlihat, sudah seyogianya proyek itu diteruskan. Tentu saja dengan tidak mengabaikan suara masyarakat yang kontra tadi, harus akomodatif,” tambah mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Di samping itu, tandas Syarif, lingkungan sekitar pabrik mesti dikelola dengan baik serta tidak meninggalkan konsep sustainable development. “Artinya, pembangunan yang dilakukan saat ini tidak mengorbankan hal-hal yang akan diraup generasi mendatang,” ujarnya. Diskusi Interaktif Green Industry yang digelar PMII komisariat UIN Sunan Ampel menghadirkan Kasi Bina Lingkungan pabrik Tuban Hery Kurniawan sebagai pembicara. Kabiro Komunikasi Perusahaan SMI Abimanyu juga ikut berada di tengah-tengah mahasiswa.


Hery menjelaskan, konsep green industry sudah lama diterapkan SMI. Di sisi lain, program CSR disusun benar-benar berdasar masukan dari masyarakat. “Kami libatkan semua pihak, mulai karang taruna, tokoh masyarakat, kepala desa sampai perguruan tinggi. Selain itu kami juga melakukan social mapping agar program CSR benar-benar tepat sasaran,” terangnya.

Penerapan CSR dan CID (Community Involvement and Development) di Tuban, sambung Hery, mengaku pada konsep tripple bottom line yang mencakup profit (keuntungan), people (masyarakat) dan planet (lingkungan). Ketika program dijalankan, saat itulah peran masyarakat menjadi tinggi, dan peran perusahaan jadi rendah.

“Jadi perusahaan mendidik masyarakat agar pelan-pelan jadi mandiri. Ibaratnya kita mendidik bayi, mulai tidak bisa apa-apa sampai akhirnya bisa bicara, jalan, sekolah, dan akhirnya mandiri saat dewasa nanti,” kata Hery.

Pada kesempatan itu mahasiswa UIN menanyakan sejumlah isu tentang pabrik semen yang didengarnya selama ini. Misalnya soal gugatan warga tentang izin lingkungan pabrik semen Rembang, nasib petani sekitar pabrik, serta isu-isu lain tentang kerusakan lingkungan. Menjawab berbagai pertanyaan itu, Abimanyu menegaskan agar tidak mudah percaya terhadap berita-berita di media massa.

“Lebih baik kalau adik-adik datang langsung ke pabrik, ngobrol dengan warga sekitar. Biar tahu kondisi yang sebenarnya seperti apa. Kami siap memfasilitasi kalau adik-adik mau mengadakan kunjungan ke pabrik Gresik atau Tuban,” tutur Abimanyu, disambut hangat peserta diskusi.